Joko Tarub Yang Selalu Beruntung

Tulisan ini saya buat sebagai semacam vedalaşma untuk Pakde Joko yang menyelesaikan studi dan tugas mengajar di Turki dan kembali ke kampung halamannya di Jawa tanggal 13 Januari 2016 ini.

Mungkin ini yang disebut keberuntungan tingkat tinggi. Satu hari dalam perjalanan dari Jakarta ke İstanbul, pesawat Saudi yang ditumpangi Pakde Joko Tarub dan keluarganya (istri dan seorang anak berusia 2 tahun) transit selama beberapa jam di kota Madinah. Pakde Joko sengaja memilih pesawat Saudi yang transit di Madinah itu karena, meski tidak bisa ziarah langsung ke makam Kanjeng Nabi Muhammad SAW, setidaknya bisa kirim (uluk) salam dari Bandara. Sebelumnya Pakde Joko telah beberapa kali menunaikan ibadah Haji dan ziarah ke Makam Kanjeng Nabi SAW saat bertugas sebagai petugas haji.

Saat semua penumpang pesawat turun dan ditransfer ke ruang transit, Pakde Joko dicegat oleh petugas bandara dan diarahkan menuju ruang yang berbeda. Ada semacam tanda tanya dalam diri pakde joko atas perlakuan berbeda yang diberikan oleh petugas bandara. Terlebih setelah lebih dari setengah jam ditempatkan dalam ruangan kecil, tidak ada kejelasan kenapa beliau ditempatkan di sana. Upaya Pakde untuk bertanya tidak membuahkan hasil karena hanya mendapat jawaban “tunggu”.

Setelah cukup lama menunggu, datanglah tentara yang meminta Pakde Joko dan keluarganya untuk mengikutinya. Merasa ada kejanggalan, Pakde Joko pun bertanya kepada tentara itu, namun tentara itu tak mau banyak bicara. Pakde Joko dan keluarganya dibawa melintasi lorong jalan bandara tanpa tau kemana akan dibawa. Doa untuk keselamatan diri dan keluarga terus dipanjatkan, sambil terus berhusnudzan kepada Allah.

Hingga sampailah Pakde Joko dan keluarganya melewati area keluar dari bandara. Kebingungan muncul, karena pakde Joko tidak mempunyai visa untuk keluar bandara. Sebagai mahasiswa yang telah berpengalaman hidup di luar negeri (pakde menjalani studi S1 di Syria, S2 di Libya dan kini dlm proses studi S3 di Turki), Pakde tahu ada konsekuensi hukum yang sangat berat bila (keluar bandara) masuk ke wilayah negara tanpa menggunakan visa. Apalagi Arab Saudi dikenal sangat ketat dan cenderung kaku prosedur birokrasi dan keamanannya, layaknya negara arab lain. Untuk mencegah sesuatu hal buruk menimpa diri dan keluarga, Pakde Joko mencoba menanyakan dan berdebat dengan tentara yang membawanya. Tentara itu sekali lagi tak banyak bergeming, meminta pakde Joko dan keluarganya untuk mengikutinya saja keluar area bandara dan meminta naik ke mobil yang telah disiapkan.

Tak punya pilihan, meski tak tahu apa yang sedang menimpa dan kemana akan dibawa, Pakde Joko pun menuruti kemauan tentara. Sambil terus berdoa, dalam perjalanan Pakde Joko mengamati area yang dilewati mobil yang membawa mereka. Sebagai orang yang pernah beberapa kali menjadi petugas Haji, Pakde Joko masih ingat beberapa tempat yang pernah beliau lihat dan lewati. Hingga saat mobil telah melewati bukit Uhud, dan Pakde yakin bahwa itu bukit Uhud yang pernah dia lihat, tanda tanya kembali muncul di benak Pakde karena dia tahu jika melewati bukit uhud itu berarti perjalanan sedang menjauhi kawasan bandara dan masuk ke kota Madinah. Untuk memastikannya, Pakde pun bertanya kepada sopir, dan jawaban yang diperoleh sama seperti yang sudah Pakde kira.

Setelah memasuki kota Madinah, mobil mengarah ke hotel mewah yang terletak di depan masjid Nabawi. Akhirnya mobil itu berhenti di area hotel mewah tersebut. Oleh tentara tadi, Pakde Joko dan keluarga diajak masuk ke lobi hotel. Tentara itu menyampaikan jika apa yang dilakukannya adalah atas perintah komandannya untuk mengantar Pakde Joko dan keluarganya  beristirahat di hotel mewah tersebut, selama transit beberapa jam di Madinah. Besok pagi pada jam yang telah ditentukan, akan ada yang menjemput, ucap tentara itu di akhir pembicaraan. Meski masih terheran-heran atas apa yang dialaminya itu, Pakde Joko akhirnya menerima apa yang diinginkan tentara yang membawanya itu.

Sungguh ajaib, pikir Pakde Joko, tanpa visa bahkan tanpa uang, bisa keluar bandara dan kemudian diinapkan di hotel mewah. Meski demikian, (setelah tentara yang mengantarnya telah pergi) Pakde Joko memutuskan untuk tidak beristirahat/tidur di kamar hotel mewah itu. Pakde dan keluarganya memilih untuk berziarah ke makam kanjeng Nabi Muhammad SAW dan menghabiskan waktu yang ada untuk berdzikir berdoa dan ibadah di sana. Semewah-mewahnya hotel, tentu saja tidak mampu mengalahkan kemuliaan, keberkahan, maupun keagungan makam Rasulullah SAW.

Selesai berziarah, Pakde dan keluarga pun harus kembali ke bandara sesuai jadwal keberangkatan pesawat ke İstanbul. Di bandara, ternyata pakde harus melalui pintu masuk biasa yang dijaga oleh petugas dengan ketat. Pakde dan keluarga tidak punya visa sehingga tertahan dan diminta menunggu. Saat menunggu itu pula terbersit kembali ingatan tentang aturan hukuman keras yang diperoleh orang yang masuk negara tanpa visa. Pikiran itu coba diredam dan Pakde kembali berusaha berhusnudzan. Tak berapa lama setelah petugas di depan pintu masuk menelepon pimpinannya, petugas meminta maaf dan mempersilahkan Pakde Joko dan keluarganya untuk masuk dan melanjutkan perjalanan.

Pakde Joko dan keluarganya akhirnya melanjutkan perjalanan ke İstanbul, dengan perasaan bahagia penuh syukur telah diberikan kesempatan oleh Allah untuk berziarah ke makam Rasulullah SAW. Proses ziarah yang terjadi di luar akal sehat itu semakin membuat Pakde yakin bahwa jika Allah menginginkan sesuatu terjadi, maka terjadilah, walaupun harus berhadapan dengan hukum atau aturan2 manusia.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s