Nikah adalah Misteri

Nikah. Untuk urusan yang satu ini, saya selalu ingat pesan Abah Yanto, guru ngaji di Jakarta, yakni salah satu misteri terbesar dalam hidup seorang bujangan adalah pernikahan.

Nikah itu satu urusan yang begitu diidam-idamkan bujangan, tapi sulit untuk direncanakan kapan, dengan siapa, atau dimana pernikahan itu akan dilangsungkan. Bahkan dengan ilmu manajemen atau perencanaan paling mutakhir sekalipun, tetap saja sulit merencanakan ketiga hal itu dengan presisi atau ketepatan tinggi. Beda misalnya jika merencanakan untuk melakukan perjalanan ke Jogja atau besok malam mau nonton bareng Liga Champions, kedua hal itu masih bisa direncanakan dengan matang dengan probabilitas pencapaian yang jelas.

Misteri besar itu kini dihadapi dan tiap hari menggelayuti pikiran sahabat saya, Rama. Saat lulus kuliah tahun 2010 lalu, Rama pernah mengutarakan keinginan dan rencananya untuk menikah paling telat usia 25 tahun. Karena kemampuan ekonomi yang dimilikinya pula, Rama pun menargetkan sebelum nikah itu bisa berangkat ke Tanah Suci Mekkah. Jadi ibaratnya saat membangun “rumah tangga” dengan “kekasih dunianya”, setidaknya Rama sudah terlebih dahulu kula nuwun ke “rumah Allah” berdoa dan minta ijin kepada “kekasih sejatinya”.

Benar saja, karna Umrah tidak “semisteri” urusan nikah, Rama pun bisa menunaikan ibadah umrah di usia 23 tahun. Di samping ka’bah dan raudah (tempat paling mustajab untuk berdoa di muka bumi) Rama demikian khusyu’ dan tersedu-sedu memohon segera ditunjukkan jodoh yang terbaik bagi dirinya. Maklum, Rama mengalami nasib yang sama dengan jutaan bujangan lain di planet bumi, ingin menikah namun belum bertemu dengan calon yang pas di hati.

Pasca umrah, Rama begitu percaya diri dapat segera mewujudkan rencananya menikah pada usia 25 tahun. Bagaimana tidak, Rama sudah umrah, bekerja sbg abdi negara di instansi yang tunjangannya paling tinggi di republik, dan berasal dari keluarga yang sangat mampu untuk mendukung kebutuhan pernikahan Rama maupun kehidupan awal pasca pernikahan.

Hari berganti hari, bulan dan tahun telah terlewati. Ternyata menemukan gadis yang cocok dengan “hati” Rama tak semudah memilih mobil di showroom BMW depan pasar kemayoran.

Bagi Rama, kalau sudah masuk ke jenjang pernikahan, kriteria cocok di hati bukan lagi soal ayu, cantik, dengan body aduhai. Beberapa gadis telah coba didekati dan mendekati Rama, tapi belum ada yang cocok dengan krentek di hati. Ada seorang mojang Bandung yang cantiknya mirip Hürrem Hatun dalam serial Turki Mühteşem Yuzyıl (Abad Kejayaan) begitu menyukai Rama dan mengharapkan Rama menikah dengannya. Jika Hürrem Hatun yang cantik aduhai itu telah membuat Sultan Sulaiman the Magnificient bertekuk lutut, maka duplikasi Hürrem di Jakarta itu tak mampu membuat hati Rama luluh. Ada hal-hal di luar wajah, badan, atau tutur kata manis. Ini soal masa depan, kata Rama. Ada hal-hal yang tidak “klik di hati” yang membuat Rama merasa tak sanggup jika harus menuruti ajakan sang Hürrem mengikat hubungan dalam tali sakral pernikahan.

image

Foto: Hürrem dan Sultan Sulaiman The Magnificient

Kini usia Rama telah 27 tahun. Artinya rencana Rama untuk menikah pada usia 25 tahun tak terwujud. Bagi Rama, “kegagalan” mewujudkan rencananya itu sudah dia terima sebagai taqdir Allah yang harus dia jalani. Tak mudah memang, apalagi Rama hidup di kultur yang “begitu usil” menyindir kejombloan. Terlebih lagi saat pulang kampung di hari raya, sebagian besar teman-teman Rama di kampung sudah berpasangan.

“Tapi begitulah hidup, menungsa iku sakderma nglakoni”, kata-kata Abah Yanto ini selalu memberi energi saat hidup yang dijalani tak seperti yang diimingkan. Abah Yanto sudah mengingatkan bahwa “jodoh atau nikah itu misteri, ga usah ditarget2kan harus nikah usia sekian, dsb. Nanti kalo ditargetkan dan “kudu” sesuai keinginan itu, bisa tertekan sendiri. Jalani saja”.

Ya.. kini Rama menjalani hidupnya dengan lebih sabar dan nrimo, karna realitas-realitas kehidupan yang dia temui sering tak seperti apa yang dia pahami 5 atau 10 tahun lalu saat dia membuat rencana-rencana obsesifnya. Nikah itu misteri, tapi hidup ini juga misteri yang lebih besar lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s