Kiai “Go International”

Sebuah keluarga kaya raya di Konya pekan lalu mengundang beberapa orang Kiai dari Indonesia untuk membantu menangani permasalahan atau hajat keluarga mereka. Agak bangga juga rasanya bagi saya sbg orang Indonesia yang mengetahui hal itu. Ternyata ilmu Kiai Indonesia telah dikenal dan diakui oleh orang luar negeri. Kalo para musisi Indonesia kebanyakan “go internasional”, entah ke Australia atau Taiwan tampil di dpn orang2 (diaspora) Indonesia, ini para Kiai ke Turki benar-benar “go internasional” dg “pasien” orang asli Turki.

“Apa di Turki ngga ada ulama atau kiai yg mumpuni ya, sehingga harus mendatangkan dari tanah Jawa”. “Berapa biaya yg dikeluarkan keluarga kaya itu untuk mendatangkan para Kiai, 70 juta, 100 juta lebih, ah.. pasti sangat besar”. Pertanyaan2 seperti ini muncul di benak saya saat tahu para Kiai akan rawuh ke Konya.

Saya tak ingin bercerita tentang aktivitas para Kiai tersebut di Konya, tapi saya ingin bercerita perjumpaan saya dengan beliau di Konya. Kebetulan pimpinan rombongan para Kiai tersebut memberikan kabar kepada saya dan beberapa teman di Konya, sehingga kami bisa nitip barang2 dari Indonesia semacam kecap, rokok, dsb.

Saat mengambil barang2 itulah, saya berjumpa dengan salah satu Kiai dari rombongan itu, yaitu Kiai Aziz. Saat itu walau saya duduk bertamu di rumah orang Turki, namun dengan gaya santai Kiai Aziz yang berbaju koko, sarung, kopiah dan rokok yang terus mengepul membuat saya seakan “berhalusinasi” sedang berada di Jawa.

Kiai Aziz menceritakan pengalamannya saat tiba di Istanbul. Di Bandara International Attaturk Istanbul, Kiai tak mendapati restoran ala Barat macam McD, KFC, dsb yg kalau di bandara Indonesia begitu ramai dipadati pelanggan. Namun Kiai justru menyaksikan yang ramai dikunjungi adalah restoran khas Turki macam Simit Sarayı. Walau bagi orang Turki sebenarnya hal seperti itu “biasa saja”, tapi bagi Kiai Aziz hal itu sangat unik dan menarik.

Sbg orang Indonesia yg pernah merasakan dorongan kultural yg luar biasa untuk merasa lebih bangga dan gengsi makan di restoran asing, entah ala Amerika, Jepang, dsb, saya bisa memahami keheranan yg dirasakan oleh Kiai Aziz atas realitas di Turki. Memang kenyataannya di Konya misalnya, restoran ala Barat macam McD atau Burger King cenderung sepi dibandingkan restoran döner, kebab, atau iskender lokantası. Beda misalnya yg saya alami ketika hidup di Jakarta, restoran waralaba ala asing dari ayam goreng, spagheti, kebab, pizza, steak, kopi, sushi dsb seolah menjadi “gaya hidup” yg membuat seseorang menjadi merasa lebih “beradab” atau gengsi ketika bisa makan di sana lalu diupdate menjadi status facebook, path, instagram dsb. Saya jd teringat sopir kantor yg suka update status ketika sdg makan di restoran asing itu, sementara klo makan di warung mie ayam atau kaki lima pinggir jalan sama sekali lupa ngupdate status. “Biar keliatan keren mas” kata dia.

Perjumpaan Kiai Aziz dengan fenomena unik di restoran Turki itu seperti memantik beliau untuk mengingatkan kami tentang pentingnya jati diri sebagai orang Indonesia. Bisa jadi dorongan untuk menyukai segala sesuatu yang datang dari luar seperti makanan, pakaian, gaya hidup dsb adalah karena tak punya jati diri, inferior atau bingung dengan identitasnya sendiri.

Sepertinya kebanggaan atau kesukaan atas segala sesuatu yang datang dari luar juga telah menjalar ke soal identitas atau nama orang Indonesia. Dalam memberi nama anak misalnya, kini di Indonesia seperti ada “trend” memberi nama anak dengan nama unik dg arti yg baik diambil dari bahasa asing, misalnya Alvaro, Olin, Delta, dsb. Bahasa arab yg artinya bagus dan unik pun diambil jadi nama, meski tak jelas apakah orang2 Arab sendiri memakai nama itu atau tidak, misalnya qaulan tsaqila, ilman nafia, adkhilni mudkhola dzidqi dsb. Belakangan dengan semakin populernya Erdoğan, nama Erdoğan pun dipakai oleh orang Indonesia.

Sementara itu, selama 2 tahun di Turki, sy belum pernah menjumpai nama2 Indonesia seperti Bambang, Joko, Adi dipake org Turki. Pasti aneh kalo ada orang Konya dgn nama Purwanto. Orang Turki menamai anak2 mereka dg nama2 Turki, bahkan negara memberikan kitab panduan utk nama2 Turki. Asal usul atau identitas seseorang dapat dilihat dari namanya.

Selepas membicarakan tentang nasionalisme, Kiai Aziz kemudian menceritakan perkembangan yang terjadi di Indonesia. Seputar berkembangnya gerakan-gerakan yg mendorong anti kpd NKRI yg dianggap taghut, tentang kerawanan sosial politik jelang pemilu 2019 dan cerita sejarah Hadratussyaikh Hasyim saat diminta pertimbangan tentang dasar negara pancasila.

Perjumpaan yang singkat dengan Kiai Aziz sedikit banyak mengobati kerinduan atas obrolan hangat gayeng khas Kiai Jawa yang tdk pernah saya temukan di Turki. Terlebih saat pamit pulang, saya disalam tempel batu akik yg sangat khas nusantara oleh Kiai Aziz. Matur nuwun Kiai.

Advertisements

2 thoughts on “Kiai “Go International”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s