Benturan Antar Jamaah? Catatan Pekan Politik Pelajar Turki

Pekan ini bagi sebagian pelajar Indonesia di Turki bisa disebut sebagai pekan politik. Selain PPI Turki yg mengadakan pemilihan Ketua baru dan Musyawarah Tahunan, beberapa PPI wilayah di Turki juga mengadakan agenda yang sama.

image

Logo PPI Turki

Sudah bukan rahasia umum lagi bila perpolitikan pelajar atau mahasiswa di Turki tidak lepas dari pengaruh ideologi atau politik Indonesia dan Turki.  Beberapa tahun lalu saat jamaah Gülenist atau Hizmet begitu kuat di Turki, pemilihan Ketua PPI Turki dibayang-bayangi kehadiran abi2 (kakak2 mentor) dari jamaah tersebut yg mengarahkan kader2nya untuk memilih kandidat yg direstui oleh jamaah hizmet.

Saat kekuatan jamaah tersebut di Turki mulai mengendur, karena retaknya hubungan antara the ruling party AKP di pemerintahan Turki dg Gülen, pengaruh jamaah hizmet terhadap gerakan mahasiswa Indonesia di Turki pun ikut melemah. Ada memang beberapa kandidat Ketua PPI Turki yg masih memanfaatkan “pengaruh” jamaah hizmet tersebut untuk meraih kemenangan. Seperti Arya, Ketua PPI Turki 2014 itu mampu memanfaatkan sisa-sisa jaringan kuat yg  masih terbina oleh jamaah hizmet (banyak pelajar Indonesia yg sekolah di Turki dg beasiswa jamaah, termasuk Arya sendiri jg sekolah S3 di Universitas yg berafiliasi dg jamaah hizmet). Selain kekuatan jamaah hizmet, terdapat “Aktor Baru” dg kekuatan besar yg mampu dipegang oleh Arya, yaitu jamaah tarbiyah (PKS).

Jamaah tarbiyah di Turki bisa dibilang cukup besar dan kuat. Anis Matta saat menjadi Presiden partai pun sengaja mengadakan acara konsolidasi PKS luar negeri di Istanbul. Arya yg juga staf ahli Anggota DPR RI dari Fraksi PKS, sejak masih mahasiswa di Universitas Indonesia (UI) telah dikenal luas sebagai pemimpin Majelis Syura Jamaah Tarbiyah UI.  Saat Arya jd panitia acara Democratic and Economic Youth Summit (DEYS) 2013 yang diselenggarakan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Istanbul, yg diundang sbg pembicara utama adalah salah satu tokoh PKS, Aher. Kuatnya jamaah tarbiyah ini terbukti dengan unggulnya PKS di Turki dalam pemilu 2014.

Perpolitikan mahasiswa di Turki akhirnya menjadi hampir mirip dengan perpolitikan di kampus2 negeri di Indonesia dalam pemilihan presiden BEM UI, UGM, ITB, dsb. Ada semacam “proposisi” di kampus2 tersebut beberapa waktu lalu, yaitu “botolpun kalau dicalonkan oleh jamaah tarbiyah jd presiden BEM akan jadi”. “Proposisi” ini pernah sy gunakan untuk memprediksi Rizky yg maju sbg kandidat Ketua PPI Turki 2015. Rizky boleh mengaku bukan orang PKS karena dia adalah PNS. Tetapi jamaah tarbiyah adalah jamaah ideologis, yg pergerakannya bisa dalam bentuk partai, lembaga sosial, pendidikan, dsb. Tak harus menjadi anggota partai untuk jadi anggota jamaah tarbiyah. Partai hanya alat jamaah. Di Turki jamaah itu pun mewujud dlm bentuk partai (pks turki), lembaga sosial semacam lksmit, dsb yg semuanya terikat oleh kesamaan ideologi yg dijaga melalui liqa2 pekanan dan media lainnya. Tak disangsikan lagi, Rizky yg bisa dibilang “bukan siapa2” atau tdk terlalu dikenal luas di Turki, dapat menang mjd Ketua PPI Turki dg signifikan. Siapa lagi di belakangnya klo bukan jamaah tarbiyah.

Posisi kuat bahkan memegang kuasa, kadang membuat seorang atau kelompok lupa diri atau arogan. Apalagi dlm sistem tertutup “jamaah”, terdapat “godaan setan” yg sangat kuat untuk merasa jamaahnya lah yg paling benar dan lurus, sementara fikrah lain dianggap masih “belum lurus”. Bagi org2 yg ada di jamaah tarbiyah Turki, sealim-alimnya orang, misalnya orang alim yg sejak dari SD di pesantren sd S3 di bidang agama Islam tapi tdk bergabung dg jamaah tarbiyah, hanya akan dianggap “orang hanif” dan tidak diutamakan dibanding murabbinya sendiri yg mungkin baru belajar intens islam sejak S1 itupun lewat liqa atau kajian. Hal itulah yg membuat munculnya byk fitnah kpd org2 di luar jamaah tarbiyah, misalnya kpd para pelajar yg berafiliasi dg jamaah nahdliyin, dengan tuduhan liberal. Arogansi-arogansi ala penguasa pun seperti menggoda orang tarbiyah yg duduk di pucuk pimpinan PPI Turki, misalnya Arya yg menuduh PCI NU Turki menunggangi PPI Wilayah, hanya karena Arya tidak suka PCI NU Turki bekerjasama dg PPI Wilayah.

Dengan “arogansi” ala penguasa itu kini jamaah tarbiyah menghadapi “sentimen negatif” yang cukup besar di kalangan pelajar Indonesia di Turki. Apalagi sebenarnya beberapa jamaah lain seperti nahdliyin dan muhammadiyah mulai berkembang signifikan. Organisasi lain dg dasar kesukuan, terutama Aceh, jg sangat besar dan kuat di Turki.

Dengan perkembangan itu, masihkah jamaah tarbiyah mencengkram kuasanya atas PPI Turki? Kita tunggu jawabannya dlm pemilu PPI Turki 4 Februari nanti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s