Mereka Terpaksa Mengungsi (1)

Zeidan, seorang doktor kimia, terpaksa meninggalkan kampung halamannya di Idlib tahun 2013 lalu. Perang saudara di beberapa kota di Suriah telah sampai di kota tempat ia hidup bersama keluarganya. Merasa tak aman dg situasi yg berkembang, tak ada pilihan lain bagi Zeidan dan keluarganya selain mengungsi.

Aku pertama kali bertemu Zeidan di kelas persiapan bahasa Turki. Di hari awal kelas kursus bahasa Turki itu, tak satupun dari kami yang bisa bahasa Turki. Aku dan Zeidan duduk bersampingan waktu itu. Karna aku tak bisa bahasa Arab dan tentu saja Zeidan tak bisa bahasa Indonesia, kami pun berkomunikasi dg bahasa inggris. Zeidan bisa memahami maksud pertanyaan dg bahasa inggris, tapi sepertinya dia kesulitan menyampaikannya lewat lisan. Lebih mudah baginya menjelaskan lewat tulisan. Akhirnya ditulislah jawaban2nya pada selembar kertas, tentang usianya, statusnya, jurusan yg dia ambil, dsb.

Dari komunikasi dg bahasa yg terbatas itu aku jd tahu jika dia datang ke Konya untuk kembali sekolah S3 lagi di bidang kimia. Beasiswa pemerintah Turki baginya jadi pilihan terbaik sbg jalan utk dapat hidup di Turki, meski sebenarnya dia sudah menyelesaikan pendidikan S3 di Suriah. Ia hidup di Konya bersama istri dan seorang anak. Orang tua dan saudara2nya juga telah mengungsi ke Turki, tapi tinggal di kota lain yakni Hatay dan Istanbul.

Zeidan bagiku adalah orang Suriah yg pertama kali aku kenal, yg di kemudian hari (saat ini) menjadi sahabat baikku.

Setelah lebih satu pekan kelas bahasa Turki berjalan, kelas kami kedatangan dua orang siswa baru. Kedatangan dua siswa itu mencuri perhatian seisi kelas yang didominasi oleh teman2 asal Afrika. Dua orang perempuan kakak beradik itu tak seperti pengungsi dalam bayangan kami. Bagiku, itulah pertama kali aku melihat “makhluk” perempuan Suriah dg kulit putih yg bersih seputih susu.

Kakak adik itu bernama Ruya dan Hanin. Ruya lancar berbahasa Inggris, sehingga aku mudah berkomunikasi dengan mereka. Sama seperti Zeidan, mereka juga memilih mengungsi ke Turki daripada harus bertaruh nyawa tinggal di kota Homs. Sebelum mengungsi ke Turki, kehidupan mereka bisa dibilang berkecukupan di Syria. Kemakmuran mereka itu masih terlihat dari kesantunan dalam berbicara dan bertingkah laku, juga tentu dari bersihnya penampilan mereka. Ayah mereka seorang Insinyur yg kini bekerja di Arab Saudi. Kehidupan mereka di Konya, termasuk kursus bahasa Turki dg biaya mahal itu, ditanggung oleh ayahnya.

Lanjutan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s