Pintu Rumah, Pintu Surga?

Kalau ada orang asing yang tak dikenal memencet bel rumah kami, biasanya saya akan mengintip melalui lubang di pintu rumah sebelum memutuskan untuk membuka atau tidak membuka pintu rumah.  Meski kami tinggal di lantai 5 di rumah model apartemen, seringkali ada saja orang asing yang bisa masuk ke dalam bangunan apartemen karena mungkin pintu utama apartemen di lantai satu yang seharusnya terkunci lupa dikunci oleh yang keluar terakhir, atau memang ada penghuni apartemen yg sengaja memberi akses bagi orang asing utk masuk. Maka tak heran bila tiba2 tepat di dpn pintu rumah kami ada saja org yg memencet bel, entah itu untuk meminta sumbangan, menawarkan barang, dsb.

Untuk orang asing yg sama sekali tak kami kenal dan terlihat akan menawarkan barang, maka saya cenderung membiarkan alias tidak membuka pintu. Jika saya sedang di kampus, alias hanya istri dan anak di rumah, maka kalopun ada yg pencet bel, bukan ibu2 tetangga, dan tidak dikenal, jelas sekali pintu tidak akan dibukakan.

Pengalaman membuka atau tidak membuka pintu itu kalo saya renungkan bisa jadi seperti apa yang akan saya alami nanti di akhirat. Maksudnya begini, kalo saya ini dianggap asing oleh Allah, bisa jadi saya tidak akan dibukakan pintu “surga”.

Apakah benar jika kedekatan seseorang dengan Allah di dunia, menentukan “pintu/tingkatan” dan “ruang/posisi” kita seseorang terhadap Allah di akhirat?

Misalnya, di dlm kehidupan “dunia” sehari-hari, jika ada orang yang saya kenal ingin masuk ke rumah saya, maka ruangan yang bisa dimasuki oleh orang tersebut di rumah saya sangat ditentukan oleh tingkat kedekatan dia dengan saya. Jika dia orang asing dan tidak saya kenal, cukup saya temui di depan pintu. Jika dia teman biasa, dia akan saya ajak ke ruang tamu dan cuma di ruang tamu itulah kami berinteraksi. Jika yang datang adalah sahabat, selain di ruang tamu, biasanya saya ajak sahabat itu masak di dapur, atau ngobrol2 sambil minum teh di balkon santai. Semakin dekat hubungan saya dengan orang yg datang, semakin “dalam” pula ruangan yg bisa dimasuki. Dengan konsep yang kami anut itu, tentu ruangan pribadi saya, kamar pribadi saya hanya “boleh” dimasuki oleh orang yg benar-benar dekat dengan saya, yaitu istri dan anggota keluarga.

Di akhirat nanti mungkin nasib manusia (tingkatan surganya atau posisi kedekatannya dg Allah) sangat ditentukan oleh kedekatannya dg Allah di dunia. Kalau manusia itu adalah kekasih Allah, para rasul, nabi, ulama, wali dsb pastilah mereka berada di tempat paling intim dengan Allah.  Orang yang dekat dengan Allah, tidak musti seorang kiai atau mereka yang berprofesi sebagai ustad di TV. Mereka juga tidak mesti berjenggot panjang, berbaju gamis, atau pakaian-pakaian yang dianggap “syar’i” itu. Lebih dari itu, kekasih Allah adalah mereka yang hati dan pikirannya selalu dengan Allah, tiap nafasnya yg disebut-sebut (dzikir) adalah Allah, waktu malamnya dihabiskan beribadah dg Allah, dan hatinya dijaga sekuat tenaga untuk bersih dari selain Allah. Tidak ada ketakutan sama sekali bagi mereka saat harus mengakhiri kehidupan di dunia, karena bagi mereka itu adalah pintu yang mengantarkannya bertemu dg kekasihnya di ruang terintim, sebuah “sebi arus” atau malam pengantin yang telah ditunggu-tunggu.

image

Kaligrafi: Muhammad bin Shafiq (ya Allah bukalah pintu terbaik untuk kami.
اللهم يامفتح الباب افتح لنا خير الابواب)

Sekali lagi, mereka tidak musti ustad, gus, habib atau aktivis dakwah/islam, tp para kekasih Allah ini dapat berwujud pegawai pajak, dosen, pns, tukang roti ataupun petani. Bisa jadi petani itu tiap mencangkul senantiasa berdzikir atau karena pny waktu luang dia mampu ibadah dari isya sampai subuh dg wudhu shalat isya’nya. Maka kita tidak boleh meremehkan siapapun, termasuk petani, siapa tahu dia adalah kekasih Allah.

Lain halnya dengan orang-orang yang tidak terlalu dekat dengan Allah. Mungkin mereka shalat, tapi hatinya tidak untuk Allah. Waktunya lebih banyak habis untuk kerja kepentingan dunia, yg membuat lelah dan hanya menyisakan tenaga untuk dua atau empat rakaat tahajud saja. Bajunya sudah sangat syar’i, yg perempuan bajunya sudah kayak mukena (hijab syar’i katanya), yg laki2 sudah berjubah atau cingkrang sedemikian rupa, tapi kadang-kadang ingat Allah, tp lebih sering ingat dagangan, hobi atau kekasih dunianya. Kira-kira apakah mereka layak memperoleh tempat terintim dg Allah sbgmn yg diperoleh kekasih Allah td?

Apalagi org-org yang sama sekali asing dari Allah. Walaupun sebaik apapun kelakuannya tapi tidak “mengenal” Allah (non muslim). Atau bahkan yg berani melakukan hal-hal yg dilarang Allah. Apakah layak mereka ini dibukakan pintu masuk ke rumah Allah? 
Wallahu’alam

MW, 3 Maret 2016

Advertisements

2 thoughts on “Pintu Rumah, Pintu Surga?

  1. Teringat saya dengan perkataan Guru saya, “Ketika nanti di akhirat, ketika manusia sedang didiadili, dan ketika nanti dipersimpangan jalan menuju surga dan neraka, sang Mursyid akan menunggu dahulu semua murid2nya dlu di dunia, apabila lewat muridnya yg semasa di hidup nya durhaka maka malaikat menanyakan kepada sang Mursyid, “benar ini murid kamu?” “Tidak” Jawab sang Mursyid, “Dia didunia mengingkari Guruny!”, maka dicampakanlah sang murid tadi ke neraka…Sang Mursyid terus menunggu sampai muridnya yang berbakti untuk bisa sampai ke surgaNya dengan selamat…wallahu a’lam…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s