Spirit 80-an: Akhir Sejarah dan Neoliberalisme

Ini bukan soal sebuah generasi yang dilahirkan di era 80-an, dimana saya salah satu darinya. Ini tentang sebuah spirit (ruh – semangat) 80-an yang sampai hari ini masih sedemikian kuat mempengaruhi kitab-kitab dan praktek kehidupan manusia.

Akhir Sejarah

Gorbachev mungkin tak pernah menyangka jika Perestroika (restrukturisasi) yang digalakkannya pada tahun 80-an justru mengantarkan Uni Soviet pada liang lahatnya sendiri. Kelesuan ekonomi yang dihadapi oleh Sovyet membuat Gorbachev melakukan reformasi fundamental atas struktur politik dan ekonomi Sovyet.  Diantara reformasi fundamental itu, salah satu yang paling penting adalah soal kepemilikan swasta dalam bisnis jasa, manufacturing dan perdagangan internasional yang telah diharamkan di Soviet sejak 1928, menjadi dilonggarkan. Pilihan kebijakan itu seperti mengingkari spirit komunisme yang telah dianut oleh Sovyet sejak revolusi Bolshevik 1917 dan menjadi tanda mulai goyahnya Sovyet menghadapi Blok Kapitalis Liberal yang digawangi oleh Amerika Serikat.

Seakan tahu bahwa musuh perang dinginnya mulai kehabisan ide dan mencari-cari cara penyelamatan dengan mengambil solusi yang berakar dari liberalism, Ronald Reagan (Presiden Amerika Serikat) pun secara terbuka menyindir Gorbachev.  Dalam peringatan 750 tahun Kota Berlin tanggal 12 Juni 1987, Reagan menantang Gorbachev untuk merobohkan tembok Berlin yang selama ini menjadi simbol pembatas dunia komunis dari luar: Gorbachev, if you seek peace, if you seek prosperity for the Soviet Union and eastern Europe, if you seek liberalization, come here to this gate. Mr. Gorbachev, open this gate. Mr. Gorbachev, tear down this Wall! (“Remarks at the Brandenberg Gate”)

Reformasi fundamental melalui Perestroika di Uni Sovyet sepertinya tak mampu mengatasi masalah akut yang ada di Uni Sovyet. Ribuan orang yang menyebrang ke Jerman Barat dan demonstrasi setengah juta orang yang menuntut perubahan politik (The Alexanderplatz demonstration) mewarnai sakaratul maut Blok Timur Komunis. Dan, di malam Jum’at yang penuh semangat pada 9 November 1989, Tembok Berlin (mulai) dirobohkan. Robohnya Tembok Berlin ini banyak dimaknai sebagai robohnya blok timur komunis yang digawangi Uni Sovyet.

Para pendukung liberalisme barat pun bergembira, perang dingin yang panjang telah mereka menangkan. Fukuyama menyebut kemenangan Liberalisme Barat itu sebagai akhir sejarah, sebuah titik akhir dari evolusi sosio kultural manusia dan bentuk final dari pemerintahan manusia di muka bumi. (Fukuyama, 1989) Sebuah akhir sejarah yang ternyata narasinya berkebalikan dengan ramalan Karl Marx tentang komunisme yang merobohkan kapitalisme.

Neoliberalisme

Dua puluh tahun sebelum kemenangan liberalisme barat atas komunisme timur, sebenarnya liberalisme barat juga dirundung permasalahan stagflasi (inflasi, pengangguran, kemiskinan) dan pemerintahan yang gemuk. Keynesianisme dituding sebagai biang keladi stagflasi di Amerika dan Inggris. Keynesianisme atau modern liberalism awalnya muncul karena situasi depresi besar di tahun 1930-an di Amerika Serikat, yang menurut Keynes memerlukan peran positif negara dengan intervensi untuk mengatasi kegagalan yang tidak bisa ditangani oleh pasar dalam bentuk pengangguran dan inflasi. Situasi pasca perang dunia kedua juga menuntut negara untuk berperan aktif dalam membangun ulang negara.

Peran aktif negara ini atau juga dikenal dengan “social/welfare liberalism”, memang pada awalnya mampu mengangkat Amerika dari jurang depresi ekonomi, namun seiring dengan perubahan ekonomi dan sosial yang terjadi juga telah mengakibatkan permasalahan baru seperti gemuk dan tidak efektifnya pemerintahan yang berujung pada stagflasi pada tahun 70-an. Beberapa pemikir seperti Friedrich Hayek, Milton Friedman, dan Robert Nozick mulai menyuarakan untuk “roll back the frontiers of the state” dan kembali ke khittah liberalisme yang mengajarkan bahwa “unregulated market liberalism will deliver efficiency, growth and widespread prosperity.” (Heywood, 2013)

Jargon “private, good; public bad” mulai digaungkan. Lembaga seperti Institute of Economic Affairs di Inggris dalam publikasinya mendesak “less government, lower taxes, and more freedom for business and consumers” sebagai perlawanan pemikiran terhadap Welfare State dan Keynesianisme yang dianggap telah memperlemah Britania. (Becket, 2010) Gerakan ini pun menjadi arus utama wacana ekonomi dan politik di 70/80-an yang kemudian dikenal sebagai Neoliberalisme.

Neoliberalisme mulai diimplementasikan secara nyata dalam pemerintahan saat Margaret Thatcher menjadi Perdana Menteri Inggris pada tahun 80-an.  Sebagai seorang yang rajin datang ke acara Institute of Economic Affairs, Thatcher mengimplementasikan ajaran-ajaran neoliberalisme dengan serangkaian reformasi fundamental atas ekonomi dan pemerintahan Inggris. Thatcher menurunkan pajak langsung atas income, cash limits pada pengeluaran publik, pengurangan belanja atas pelayanan sosial seperti pendidikan dan pemukiman, dan privatisasi perusahaan negara. (Seldon, 2000; Gokce, 2007).

Setali tiga uang dengan Thatcher di Inggris, Ronald Reagan di Amerika Serikat juga mengimplementasikan ajaran neoliberalisme untuk menghadapi stagflasi yang melanda Amerika. Menurut Reagan “hanya dengan memangkas pertumbuhan pemerintah, kita dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi”. Kebijakan ekonomi Reagan yang dikenal dengan Reaganomics itu mempunyai empat tujuan yaitu: (1) mengurangi pertumbuhan pengeluaran pemerintah, (2) mengurangi marginal tax rates pada income baik dari tenaga kerja maupun capital, (3) mengurangi regulasi, dan (4) mengurangi inflasi dengan mengontrol pertumbuhan pada suplai uang. (Niskansen, 1988)

Neoliberalisme yang diimplementasikan di Inggris dan Amerika Serikat pada tahun 80-an berhasil menyelamatkan dua negara Barat Liberal itu dari stagflasi.  Problem inflasi, pengangguran, kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, pemerintahan yang gemuk sedikit demi sedikit dapat teratasi. Puncak dari “comeback” Barat Liberal ini tentu saja saat blok ini dapat memenangkan perang dingin melawan Timur Komunis Sovyet yang melakukan blunder “perestroika” menghadapi stagflasi.

Pasca 80-an

Pasca barat liberal menang dan sejarah dianggap telah berakhir, para pengusung neoliberalisme menjadi sedikit pongah dengan menyatakan bahwa neoliberalisme sebagai satu-satunya jalan menuju kemakmuran dan tidak ada jalan lain di luar neoliberalisme untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. (Winanti, 2008).  Melalui berbagai lembaga-lembaga ekonomi internasional, seperti WTO, Bank Dunia, IMF, gagasan-gagasan neoliberal dipaksakan penerapannya secara global. Negara-negara berkembang yang secara sejarah, budaya, politik, dan ekonomi memiliki kondisi yang berbeda dengan Barat yang telah mapan, dipaksa mengikuti spirit neoliberal dalam pengelolaan negara dan ekonomi.

Dan sampai hari ini spirit neoliberalisme masih belum tertandingi, mungkin sejarah memang telah berakhir, atau manusia tak lagi sanggup membangun ideologi tandingan. Wallahu’alam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s