Makin Belajar Makin Bodoh

Benar apa yang disampaikan oleh Abah Mardi beberapa tahun lalu, seorang yang belajar dan terus belajar, dia akan memahami bahwa sebenarnya dia bodoh di hadapan ilmu Allah. Seorang yang telah sampai pada esensi pencarian ilmu seharusnya malu bila disebut sebagai pintar, karena pada hakikatnya ilmu yang dimiliki sangatlah sedikit. Bahkan untuk orang sekaliber Nabi sekalipun, ia tak berhak merasa paling pintar. Kita bisa tengok cerita Nabi Musa, saat sang Nabi merasa terlalu percaya diri dengan mengiyakan pertanyaan “apakah dia orang paling pintar di muka bumi”, kemudian Allah menjadi perlu mengirimkan Khidr sebagai hamba Allah yang saleh untuk menunjukkan kepada Nabi Musa bahwa ilmu yang dimilikinya belumlah seberapa.

Makin Belajar Makin Bodoh, bukanlah diartikan sebagai ungkapan anti pembelajaran tapi sebuah kesadaran bahwasanya akal manusia terbatas dan ilmu Allah sangatlah luas, sehingga manusia tak perlu sombong atas sedikit ilmu yang dimiliki.

Bagi saya saat ini, yang sedang mempersiapkan diri untuk yeterlilik sınavı (ujian komprehensif), sungguh merasakan betapa ilmu Allah itu sangat luas dan seperti tidak habis-habisnya. Yeterlilik sınavı adalah ujian komprehensif yang mengujikan semua materi kuliah dari jenjang S1 sampai dengan S3. Seorang yang telah lulus ujian ini, baru bisa disebut sebagai kandidat doktor. Setahu saya ujian inilah yang membuat banyak mahasiswa Indonesia yang studi S3 di Turki berguguran. Sebagai contoh dari 10 orang yang mulai studi S3 pada tahun 2011 baru satu orang yang telah benar-benar selesai dan menjadi doktor, sebagian baru menyelesaikan yeterlilik tahun lalu (2015) – ada yang lulus dan gagal (padahal seharusnya ujian ini dilakukan di tahun kedua, yakni tahun 2012).

Materi dari jenjang S1 sampai dengan S3 pada jurusan atau bidang ilmu tertentu, sebenarnya hanya satu bagian kecil saja dibandingkan ilmu-ilmu yang ada dalam kehidupan. Itu baru materinya, belum soal bahasa untuk memahami ilmu itu sendiri. Kemampuan dua atau tiga bahasa yang dimiliki seseorang jelas tidak ada apa-apanya dibanding ratusan bahasa yang ada di muka bumi.

Walau sebenarnya hanya satu bagian kecil dari lautan ilmu, namun bagi saya materi dari jenjang S1 sampai dengan S3 adalah sangat banyak dan luas. Dengan menggunakan bahasa Indonesia pun, bahkan materi satu mata kuliah saja cukup berat bagi saya untuk diujikan secara lisan maupun tulisan, apalagi kok 20 materi kuliah yang harus dipahami dan diujikan dengan bahasa Turki.

Satu tema dalam mata kuliah, pada kenyataannya tidak hanya dibahas dalam satu dua buku atau tulisan, tapi bisa puluhan atau ratusan tulisan jurnal yang membahasnya. Maka dengan  20 tema yang harus saya pelajari, saya mendapati bahwasanya diri saya ini benar-benar sangat sedikit ilmunya, dibanding ilmu-ilmu yang ada di jagad raya ini. Saya jadi paham atas petuah Abah Mardi tentang “Makin Belajar Makin Bodoh” itu. Apa yang mau disombongkan oleh manusia, ilmu? gelar akademik? karena sebenarnya ilmu manusia itu sangat sedikit.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s