Comblang

Udah lama sekali saya tidak ikut bantu teman dalam proses pernikahan atau taarufnya. Beberapa tahun lalu saya beberapa kali nemenin temen yg mau ketemu dg calonnya utk pertama kali, menjadi pihak ketiga yg menjembatani dua org yg ingin saling mengenal, atau nganterin teman yg nglamar ke rumah calon mertuanya.

Yang agak unik adalah cerita seorang teman yg dia dan orang tuanya memiliki ketertarikan pada seorang mahasiswi kedokteran. Teman saya belum pernah sekalipun melihat sang calon dokter, ia hanya tahu dari orang tuanya bahwa ada teman bapaknya yg pny putri yg sedang sekolah kedokteran.  Tanpa sengaja pada satu perjalanan travel dari Jogja, saya berkenalan dg seorang yg ternyata adalah calon dokter itu. Dalam percakapan itu saya jadi tahu ternyata dia anak mantan pejabat penting di kota saya tinggal. Saat di travel itupun saya langsung menghubungi teman sy, menanyakan apakah calon dokter yg dia maksud adalah anaknya Pak Amaf. Benar, ternyata ini calon dokter yg pernah disebut sebut teman saya itu. Teman saya tak pernah sekalipun melihat langsung, malah justru saya yg bertemu dan ngobrol langsung dg calon dokter itu. Setelah pertemuan itu, saya bantu teman saya menyampaikan niatnya utk berkenalan. Sayangnya, ternyata calon dokter ini sudah pny calon sendiri. Hm… blm jodoh rupanya.

Pernah juga seorang teman namanya Asih, ingin dibantu dicarikan calon suami. Saya minta dia sebutkan kriterianya seperti apa. Saya jg minta sebutkan klo dalam figur teman2 yg saya dan dia kenal seperti “mas” siapa. Dia pun menyebut kriteria2 yg diinginkan dan menyebut “mas Bq” sbg contoh figur. Karna mas Bq yg dia sebut itu blm nikah, knp ga dengan mas Bq aja, pikir saya waktu itu. Saya pun menghubungi teman yg dkt dg Mas Bq. Benar-benar jodoh, akhirnya mbak Asih dan Mas Bq menikah beberapa bulan kemudian.

Membantu proses taaruf teman itu seru. Byk suka, duka dan kejutan-kejutan yang sering datang tak terduga. Saat bisa menyaksikan teman yg kita bantu akhirnya tersenyum bahagia di depan penghulu, rasa bahagia itu juga sangat kuat dapat kita rasakan.

***

Setelah sekian lama tak membantu teman yg minta dicarikan calon, tiba2 ada tmn menghubungi minta dicarikan calon pendamping hidup.

Yang pertama, orang Turki, namanya Toriq. Entah mengapa Toriq begitu percaya meminta tolong carikan pendamping hidupnya kpd saya. Padahal dia hanya bertemu dg saya hanya pada satu kesempatan, yakni pd saat berkenalan di terminal bus Istanbul. Mungkin Toriq terpengaruh oleh mitos yg berkembang di Turki tentang org Indonesia. Menurut cerita yg diterima orang2 Turki dari orang tua mereka yg pulang ibadah haji, orang Indonesia diceritakan sbg org2 yg santun, lembut dan halus. Begitu pula alasan yg disampaikan Toriq saat sy tanya knp mencari calon istri orang Indonesia.

Saya tidak terlalu mengenal Toriq dg baik, jd saya tdk berani utk menindaklanjuti permintaannya. Saat bertemu di terminal Istanbul, dia memang begitu baik, menolong saya dan keluarga yg menunggu bus ke Konya yg tak muncul2. Dia memperkenalkan diri sbg seorang PNS di kementerian kesehatan dg usia 32 tahun. Dlm percakapan itu dia memperkenalkan pula mursyid-nya dan meminta saya berkunjung ke dergah tarekatnya di Istanbul. Aneh juga bg sy rasanya ada org yg begitu terbuka soal tarekat, padahal saya sedikitpun tdk ngomong tentang keislaman seperti apa yg saya jalani. Pertemuan itu terlalu singkat, tak lebih dari satu jam. Beberapa bulan setelah pertemuan itu dia menghubungi saya, menanyakan kabar dan meminta dicarikan calon istri. Saya tak berani memenuhi permintaannya. Selain memang tak pny teman yg sedang mencari calon suami org Turki, sy jg tdk berani mengambil risiko mengenalkan tmn pd org asing yg tidak sy kenal secara mendalam.

Yang kedua, istri sy tiba2 dihubungi teman kampusnya yg menanyakan biro jodoh di kampus. Annisa nama teman istri sy itu. Padahal Annisa ini bukan org yg terlalu dekat (tdk intens komunikasi) dg Istri, hanya kenal sbg teman seangkatan di kampus, namun entah ada “angin” apa tiba2 minta bantuan dicarikan calon pendamping hidup. Kami pun berusaha membantu Annisa. Kami hubungi teman2 yg masih single, termasuk juga menghubungi tmn2 yg kira2 bs membantu mencarikan calon. Saat kami minta tolong teman2 yg siap mencarikan, ternyata ada teman yg malah minta tolong utk dibantu utk dicarikan calon suami bg adik perempuannya. Jadi kini tidak hanya Annisa, tetapi juga Anita minta dicarikan calon suami.

Ternyata tidak mudah memperoleh calon bagi annisa dan anita. Kami pun hanya bisa menunggu, begitu pula Annisa dan Anita yg harus senantiasa sabar menerima kenyataan masih membujang jelang usia 30. Apakah memang jumlah perempuan di atas 25 tahunan yg sedang “menunggu” pasangan tak sebanding jumlah lelaki soleh yang ada? Wallahu’alam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s