Yang Nyata Hanya Yang Terlihat

Sejak kemunculan positivisme pada abad ke-19, manusia didorong untuk mempercayai bahwa hanya yang terlihat, empirik dan teruji secara analitik matematis-lah yang bisa dipahami sebagai kenyataan. Sementara yang gaib dan metafisik, menurut doktrin positivism adalah sesuatu yang tidak bisa dipahami karena dianggap tidak empirik dan juga tidak analitik.

Adalah kelompok Vienna atau yang sering disebut dengan Vienna Circle di bawah bimbingan Bertrand Russel dan G.E. Moore yang membidani kelahiran positivisme di Eropa pada paruh kedua abad 19. Vienna Circle menjadi sebuah perkumpulan yang memakmurkan penelitian experimental, scientism, dan kebebasan berpikir di Eropa pada masa itu. Gagasan positivisme semakin berkembang dan diajarkan di kampus-kampus dengan kelahiran tokoh-tokoh filsuf pendukungnya di universitas seperti Gomperz, Seress dan Fodl. Yang paling utama dari gagasan Viena Circle adalah problem makna dalam penelitian. Mereka membersihkan ilmu pengetahuan dari hal-hal yang metafisik dan spekulatif dalam penelitian. Dalam konteks itu, saat meneliti hanya ada dua sumber yang diperdebatkan yaitu akal dan eksperimen.

Meski datang agak belakangan, Auguste Comte (1922-1983) lebih dikenal sebagai salah satu tokoh utama positivisme. Segaris dengan Vienna Circle, Comte berpandangan bahwa tak ada tempat lagi bagi kepercayaan dan sistem nilai di luar empirisme, scientisme dan kebebasan berpikir. Dengan demikian tak ada lagi kekuatan di atas science. Menurutnya pengetahuan yang nyata adalah yang bisa diuji.

Setidaknya terdapat beberapa prinsip yang dianut dalam positivisme, yakni:

– Setiap yg bermakna merupakan sesuatu yang empirik atau analitik. Dalam hal ini proposisi yang memiliki makna adalah yang dapat diuji. Sedangkan segala sesuatu yang dapat diuji adalah empirik dan analitik.

– Setiap proposisi matematis adalah analitik. Proposisi matematis bukanlah empirisme karena tidak berasal dari luar diri namun merupakan produk nalar. Sementara itu empirisme berasal dari luar merupakan hasil pengujian.

– Semua metafisika tidak dapat dimaknai karena tidak empirik dan tidak analitik.

Positivisme memberikan pengaruh yang begitu kuat bagi cara berpikir manusia hingga hari ini.

Saat ini, banyak orang hanya mau menerima kebenaran hanya dari sesuatu yang terlihat dan dapat diuji. Bahkan dalam masyarakat  muslim yang punya prinsip “iman kepada yang ghaib” sekalipun, sesuatu yang ghaib atau metafisik dianggap sebagai hal yang kuno dan ketinggalan jaman.

Bagi saya sendiri sebagai orang yang besar di lingkungan masyarakat Jawa dan Nahdliyin yang begitu sering bersinggungan dengan metafisika, positivisme mungkin penting sebagai metode ilmiah exacta, tapi kehidupan ini disusun oleh sesuatu yang terlihat dan tak terlihat yang tak bisa dijelaskan dengan pengujian dan analitik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s