Area Bermain Anak

Saya menulis blog ini di kamar kecil rumah orang tua kami di pondok aren.
Di depan saya, Aisya masih belum bangun dari tidurnya sejak jam 22, sementara Ibunya baru tertidur setelah menyelesaikan tilawah Qur’an di pagi ini.

Kemarin Aisya bermain di playground cukup lama, hingga mungkin ia masih kelelahan dan butuh waktu tidur sedikit lebih banyak dibanding biasanya. Untuk anak berusia 4 tahun seperti Aisya, bermain di playground seperti menjadi kebutuhan primer. Sayangnya sejak kami meninggalkan Konya dan tinggal di Pondok Aren, Aisya juga telah meninggalkan playground depan rumah kesayangannya. Di Pondok Pucung Indah II tempat kami tinggal saat ini tak tersedia taman yang dilengkapi dengan area bermain anak2 yang representatif sebagaimana yg pernah kami lihat di Bosna, Konya. Tak ada pilihan lain, jika ingin main di playground, pilihannya adalah berkunjung ke taman besar di pusat kawasan bintaro atau ke mall. Kemarin kami memilih ke Bintaro Plaza (BP), di sana terdapat area bermain anak yg lumayan. Jika dibandingkan dg mall di Konya, biaya untuk bermain di area bermain di BP lebih murah karena dengan Rp.30k Aisya bisa bermain selama satu jam, sementara di mall Konya Rp.30k hanya bisa untuk bermain selama 25 menit.

Area bermain anak sesungguhnya sangat penting bagi pendidikan mental, sesuatu yang sangat digaungkan oleh para pemimpin. Di area bermain itu, anak bisa bersosialisasi, belajar berbagi, membantu orang lain, menghargai orang lain dan banyak hal lain. Ambil contoh misalnya dengan keberadaan ayunan di area bermain yang terbatas sementara yang ingin main cukup banyak, anak kecil dengan bimbingan kakak atau orang tua yg menemani main dapat diajarkan untuk menghargai dan berbagi dengan anak lain. Kadang kala ada memang anak-anak yg ingin menguasai permainan, tak peduli ada anak lain yang ingin main juga. Apalagi kalo anak-anak itu adalah satu kelompok layaknya genk kecil, mereka seperti ingin menguasai semua fasilitas di tempat itu. Saya sering melihat itu di Konya, saat anak-anak Suriah berkelompok dan bermain di playground. Merasa kuat dan banyak, kadang mereka tak memberikan kesempatan kpd anak-anak lain untuk mencoba ayunan atau prosotan, yg terus menerus mereka duduki tanpa peduli ada anak lain ingin memakainya juga. Saya sering kasihan melihat anak-anak Turki yg sebenarnya adalah “pemilik” area bermain itu menjadi tidak nyaman untuk bermain di tempat mereka sendiri.

Dengan bimbingan kakak atau orang tua yg menemani anak bermain, proses penanaman mental yang baik seperti sense untuk mengerti kebutuhan orang lain dan kemauan berbagi saya yakin akan sangat berpengaruh bg mental generasi mendatang. Pada saat seperti itulah playground, area bermain atau kesempatan anak2 bermain bersama dengan teman2nya (entah bentik, loncat tali, petak umpet, dsb) menjadi sedemikian penting daripada hanya memberikan gadget untuk bermain kpd anak. Sambil berharap (kalo didenger) negara/pemda lebih perhatian kpd hal itu dg membangun taman2 yg representatif, semoga saya dan para orang tua yg lain punya kemampuan untuk bisa mendidik anak2 kami dengan kebaikan2 walau dengan fasilitas apa adanya di Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s