Sandiwara Media Sosial

Ada satu hari saat saya menemukan sebuah pencerahan tentang bagaimana menggunakan media sosial seperti facebook, twitter, whatsapp, dsb. Media sosial adalah ruang publik yang menggoda setiap penggunanya untuk memanfaatkannya bagi banyak kepentingan. Kalau tidak hati-hati bisa jadi lebih banyak mudharatnya daripada kebaikan-kebaikan yang dapat kita ambil dari media sosial.

Sama halnya dengan dunia nyata, media sosial di dunia maya memberikan ruang bagi penggunanya untuk menyampaikan pendapat, gagasan, ide, lelucon, dsb bahkan dengan cara yang lebih mudah karena tinggal ngetik di hp tanpa harus bertemu muka. Dengan posisinya sebagai ruang interaksi semacam itu, baik dunia nyata maupun dunia maya dapat menjadi panggung sandiwara bagi orang-orang yang membutuhkan eksistensi atau yang ingin dicitrakan seperti apa oleh orang lain.

Maka sangat sering kita temui di whatsapp misalnya, ada perilaku orang yang ingin terlihat paling cepat memperoleh akses informasi. Seorang dengan kepentingan ingin terlihat sebagai yang paling cepat memperoleh informasi akan dengan sangat bahagia bila mendapat informasi A1 yang sepertinya orang lain belum mengetahuinya lalu ia akan mensharenya di whatsapp atau media sosial lain. Perilaku seperti ini pernah menjadi blunder pada peristiwa bom sarinah lalu, saat orang-orang ini menshare info yang tidak terverifikasi misalnya teroris dengan senapan otomatis mengendarai motor menuju ke arah istana dan menembak ke segala arah atau juga teroris menuju beberapa tempat strategis ke arah selatan Jakarta. Biasanya orang-orang ini jarang meminta maaf atas kesalahan telah menshare berita yang tidak valid.

Selain perilaku ingin tampil menjadi orang yang paling cepat memperoleh informasi, beberapa perilaku lain di media sosial yang sering kita temui misalnya ingin terlihat sedang berada di tempat asing yang kelihatannya keren (bahkan sekedar transit di bandara untuk beberapa jam pun kalau bisa semua orang perlu mengetahuinya); ingin terlihat punya quote atau hal-hal baru yang didapatkan dari ucapan orang yang baru dia dengar, buku yang baru dia baca, atau mungkin ilham dari langit yang baru diterima; dan ingin terlihat religius atau cerdas (misalnya godaan untuk ngeshare quote dari caknun atau tokoh, syeikh, ustad dsb yang kadang quotenya mendekonstruksi pemahaman umum selama ini).

Saya tidak sedang mengkritik orang lain. Bagi saya sendiri ruang interaksi yang ada di media sosial (begitu pula dengan interaksi di dunia nyata) sudah seharusnya saya sikapi dengan hati-hati agar saya tidak terjerumus ke riya, pamer, atau merasa yang “paling”, bahkan menjadi penyebar fitnah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s