Tentang Cinta (Al Ghazali)

Seseorang mencintai kekasihnya, suaminya, anaknya, ibunya, atau teman-temannya, juga mencintai yang tak pernah ia lihat seperti nabinya, para sahabat nabi, para ulama yang telah tiada sebelum dia dilahirkan, dan mencintai Allah yang menciptakannya.

Rasulullah SAW pernah bersabda: “ada tiga (hal) dari dunia kalian yang diriku diharap mencintainya: wewangian, perempuan, dan permata hatiku dijadikan dalam shalat” (Hadist ini dituturkan dari an-Nasaei dari Anas bin Malik)

Tentang hadist ini Imam Al Ghazali menjelaskan bahwa wewangian disebut sebagai sesuatu yang dicintai, karena walau mata dan pendengaran tidak kuasa menikmati wewangian, tetapi penciuman menikmatinya. Perempuan juga menjadi sesuatu yang dicintai karena penglihatan dan sentuhan dapat menikmatinya. Shalat dinamakan permata hati dan dijadikan sebagai sesuatu yang paling dicintai.  Walaupun panca indera tidak mendapatkan keuntungan dengan shalat, tetapi indra keenamlah (yang diduga sebagai tempat kalbu), yang kuasa menikmatinya tanpa diketahui selain sang pemilik kalbu.

Yang pertama-tama dicintai manusia adalah dirinya sendiri, baru kemudian keselamatan anggota-anggota badannya, hartanya, anaknya, keluarganya, dan teman-temannya. Pengertian cinta terhadap dirinya adalah tabiatnya cenderung pada keabadian dirinya dan tindakan menghindari ketiadaan dan kematian dirinya.

Anggota-anggota badan dicintai dan keselamatannya dicari karena kesempurnaan dan keabadian wujud terletak padanya. Harta dicintai karena ia juga merupakan sarana keabadian wujud dan kesempurnaannya. Manusia mencintai anaknya karena dalam keabadian keturunannya terkandung semacam keabadian dirinya. Karena sangat mencintai keabadian dirinya, ia mencintai keabadian orang yang menggantikan dirinya dan seakan orang yang menggantikannya itu adalah sebagian dari dirinya. Ini karena ia tak kuasa mengharapkan keabadian dirinya untuk selamanya.

Yang kedua, manusia mencintai orang yang berbuat baik kepadanya dan membenci orang yang berbuat jahat kepadanya. Orang yang berbuat kebaikan adalah orang yang memberikan pertolongan dengan harta, bantuan, dan sebab-sebab lain yang mengantarkan pada kesinambungan wujud, kesempurnaan wujudnya, dan ketercapaian berbagai nasib baik.

Orang yang berbuat kebaikan dicintai, bukan karena (kesempurnaan) orang itu sendiri. Tetapi sebenarnya karena kebaikan orang itu telah menjadi sebab bagi kesempurnaan dirinya (yang mencintai kebaikan). Seperti dokter yang menjadi sebab tetap sehatnya anggota badan. Dalam hal ini perlu dibedakan antara cinta terhadap kesehatan dan cinta kepada dokter yang menjadi sebab kesehatan. Ini karena kesehatan dicari untuk kesehatan itu sendiri, sedangkan dokter dicintai tidak karena dirinya, namun karena ia menjadi sebab bagi kesehatan. Jikalau kebaikan itu sirna, tentu sirna pula cinta itu, walau diri orang itu sejatinya masih ada. Seperti halnya kita tidak lagi mencintai dokter itu karena ternyata tidak bisa menyembuhkan penyakit yang kita alami.

Ketiga, mencintai sesuatu karena diri sesuatu itu sendiri, tidak karena keuntungan yang diperoleh di balik diri sesuatu itu sendiri. Yang demikian itu seperti cinta pada kecantikan dan ketampanan: setiap kecantikan dicintai orang yang mengetahui akan kecantikan dan karena cinta itu sendiri. Ini karena menyadari kecantikan mengandung kelezatan, sedangkan kelezatan sendiri dicintai karena dirinya sendiri, bukan karena lainnya.

Segala sesuatu yang melezatkan disukai dan setiap keindahan serta kecantikan tidak terlepas dari kelezatan. Tidak seorangpun mengingkari kenyataan bahwa kecantikan, menurut tabiat manusia, disukai. Jika sudah jelas bahwa Allah SWT adalah indah, maka Dia dicintai oleh orang yang menyadari keindahan dan keagungan-Nya.

Keempat, manusia mencintai keindahan meski tidak terlihat oleh indera. Keindahan, ketampanan dan kecantikan tidaklah terbatas pada segala sesuatu yang terasa indra penglihatan. Keindahan juga terdapat pada sesuatu yang tidak dilihat dengan panca indera, seperti tingkah laku yang bagus, ilmu yang baik, perjalanan hidup yang memikat, dan akhlak yang elok. Semua sifat-sifat tersebut tidak dapat dirasakan panca indera, namun dirasakan dengan pendar cahaya penglihatan mata hati yang bathin.

Sesuatu yang membuat seseorang mencintai Sahabat Nabi, adalah sosoknya yang bathin, bukan sosoknya yang lahir. Sebagaimana diketahui, orang yang mencintai Abu Bakr ash Shiddiq, misalnya, ia tidak mencintai tulangnya, dagingnya, kulitnya, sendi-sendinya, atau sosoknya, namun sejatinya ia mencintainya karena sifat-sifatnya yang bathin, yaitu agama, ketakwaan, ilmu yang luas dan wawasan keagamaannya.

Kelima, manusia mencintai karena keselarasan yang tersembunyi antara pencinta dan orang yang dicintai. Ini karena seringkali terjadi kisah kasih yang sangat mendalam di antara dua orang yang tidak disebabkan oleh keelokan atau keuntungan, namun disebabkan keselarasan jiwa semata.

Terakhir, Imam Al Ghazali menyampaikan bahwa jika kelima sebab cinta di atas berpadu pada diri seseorang, maka cinta itu akan membara. Cinta membara selepas hal-hal tersebut berpadu, selaras dengan kuatnya semua hal itu pada dirinya. Jika hal-hal itu berada pada jenjang kesempurnaan yang paling puncak, tentu cinta itu berada pada jenjang yang paling tinggi. Semua sebab itu tak akan terbayangkan kesempurnaannya dan tidak akan berpadu selain pada Allah SWT. Karena itu pada hakekatnya tiada yang berhak dicintai selain Allah SWT.

 

Sumber: Ihya Ulumuddin, Jilid 14.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s